Seorang pemegang konsesi duduk di atas cadangan yang belum pernah diukur dengan benar. Sebuah desa hidup di tepi hutan, tanpa tahu bahwa dunia bersedia membayar agar hutan itu tetap berdiri. Seorang spesialis menekuni bidangnya selama dua puluh tahun, dan tak seorang pun pernah menunjukkan kepadanya bahwa keahlian itu dapat menjadi sebuah perusahaan.
Yang hilang dalam setiap kasus bukanlah potensi, melainkan jalan untuk meraihnya, dan seseorang yang bersedia berdiri di antara keduanya.
Karena itulah Kantara ada.
Saya memilih nama ini dengan sengaja. Dalam bahasa Sanskerta, kāntāra berarti jalan sulit yang menembus belantara. Dalam bahasa Arab, qanṭara berarti jembatan. Saya tidak memilih salah satunya, karena keduanya menggambarkan pekerjaan ini. Medan adalah alasannya. Jembatan adalah jawabannya.
Bagi saya, nama adalah doa. Saya percaya kehidupan sebagai pengusaha ini dianugerahkan kepada saya bukan untuk menumpuk kekayaan, melainkan untuk menjadi berkah bagi banyak orang. Kantara adalah keyakinan itu yang diwujudkan dalam kerja.
Sejak 2019, kami telah menyelesaikan lebih dari lima puluh proyek untuk kementerian, BUMN, dan industri swasta di seluruh Indonesia.
Kini kami beroperasi di seluruh ekosistem energi dan sumber daya, dengan rantai kerja yang lengkap dari pijakan pertama hingga penyerahan kembali lahan. Artinya, pemegang konsesi tidak perlu mengumpulkan belasan kontraktor dan menanggung risiko di antara mereka. Satu grup mendampingi mereka sejak hari pertama survei hingga hari terakhir lahan diserahkan kembali.
Hari terakhir itu sama pentingnya dengan hari pertama.
Ada satu hal yang perlu saya sampaikan dengan jujur. Kami belum menempuh rantai itu secara utuh dari awal hingga akhir — proyek reklamasi dan karbon pertama kami kini sedang berjalan. Saya menuliskannya di sini karena saya lebih memilih dinilai dari apa yang benar-benar telah kami kerjakan daripada dari apa yang terdengar meyakinkan. Itulah standar yang sama yang kami terapkan pada setiap angka yang kami serahkan kepada mitra.
Kami bekerja di industri yang mengambil dari lahan. Saya tidak akan berpura-pura bahwa pekerjaan ini tanpa dampak. Yang dapat kami janjikan adalah mengukur dampak itu dengan jujur, mengelolanya dengan disiplin, dan mengembalikan lahan dalam keadaan siap untuk apa pun yang datang berikutnya. Energi yang bertanggung jawab bukanlah energi yang mengaku bersih. Energi yang bertanggung jawab adalah energi yang meninggalkan sesuatu.
Ada satu prinsip yang paling sering ditanyakan orang kepada saya, dan saya senang menjawabnya.
Kami tidak selalu mengambil porsi mayoritas. Di beberapa bisnis kami, mitra pendirilah yang memegang kendali. Ini bukan kemurahan hati, melainkan hitungan sederhana. Keahlian butuh seumur hidup untuk dibangun. Struktur, modal, kepatuhan, dan akses pasar hanya butuh delapan belas bulan bagi kami. Maka, mereka yang memegang keahlian itulah yang semestinya memegang perusahaan, dan kami membawa apa yang mampu kami bangun.
Energi adalah tempat kami membuktikan diri saat ini. Kapabilitas yang sama akan membawa kami lebih jauh ke pangan dan agribisnis, lalu ke pariwisata berbasis alam. Lahan yang sama. Disiplin yang sama.
Jika Anda memegang sesuatu yang belum menemukan wujudnya — sebidang lahan, sebuah konsesi, keahlian yang belum pernah dibangun menjadi bisnis — saya mengundang Anda untuk berbicara dengan kami.
Bawa potensinya kepada kami. Bersama, kita bangun jalannya.