JAKARTA – PT Kantara Indonesia Group (KIG) mengambil langkah strategis untuk memperluas jaringan bisnis globalnya dengan menjajaki kerja sama di Rusia. Melalui keikutsertaan dalam program Made in Moscow di Moscow Export Center pada Jumat (11/9/2026), delegasi Kantara membidik potensi adopsi teknologi tingkat tinggi sekaligus penguatan rantai pasok logistik antarnegara.
Kunjungan bisnis atas undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow ini dipimpin langsung oleh Direktur Utama Kantara Group, I Made Nugraha Jaya Wardana yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO). Manajemen PT Kantara Indonesia Group yang turut serta hadir mendampingi delegasi diantaranya Komisaris Utama Kantara Group Heru Sambodo, Direktur PT Georama Karya Indonesia I Putu Yoga Sanjaya, serta Direktur Utama PT ACSL Kantara Global Logistik Firaz Bestly.
Melalui fasilitasi Pemerintah Kota Moskow, delegasi Kantara dipertemukan dengan sejumlah pelaku usaha bonafide Rusia, khususnya di sektor teknologi informasi dan manufaktur.
"Kami dibukakan akses untuk bertemu langsung dengan perusahaan-Moskow dari berbagai industri. Seluruhnya adalah perusahaan bonafide, sehingga peluang kolaborasi ke depan sangat terbuka lebar," ujar Made di Jakarta, Kamis (17/9/2026). Ia menekankan bahwa Kantara berfokus pada pola kemitraan dua arah yang saling melengkapi kebutuhan industri kedua negara, bukan sekadar hubungan perdagangan satu arah.
Memetakan Transfer Teknologi untuk Pasar Domestik
Momen pertemuan dengan para pengusaha Rusia dimanfaatkan Kantara Group untuk memetakan teknologi mutakhir yang berpotensi diimplementasikan di Indonesia.
Sebagai kelompok usaha yang berekspansi di bidang geosains, energi, pertambangan, restorasi lingkungan hingga logistik. Kantara mengandalkan lini usahanya, PT Georama Karya Indonesia, untuk mengkaji kesesuaian teknologi tersebut. PT Georama sendiri selama ini menangani proyek jasa geosains dan rekayasa energi dari tahap perizinan hingga eksekusi lapangan.
"Teknologi yang sudah terimplementasi dengan baik di Rusia berpeluang diadopsi dan diterapkan di Indonesia. Kantara menjadi salah satu mitra strategis yang dipercaya untuk berkolaborasi dalam penerapan teknologi tersebut di Indonesia," tutur Made.
Berbekal pemahaman mengenai tantangan dan kebutuhan industri nasional, Kantara Group berharap dapat berkontribusi positif dalam memperkuat sinergi ini bagi kemajuan bersama di tanah air. Made menambahkan bahwa Kantara sangat terbuka untuk belajar dan bekerja sama guna menghadirkan teknologi yang relevan dan bermanfaat bagi pengembangan industri di Indonesia.
Program Made in Moscow yang dijalankan oleh Moscow Export Center (MEC) ini memang dirancang untuk menghimpun produsen teknologi tinggi dari ibu kota Rusia. Sepanjang tahun 2026, MEC mencatat telah memfasilitasi pelaku usahanya dalam lebih dari 60 agenda internasional di 25 negara.
Dukungan Penuh KBRI untuk Rantai Perdagangan
Selain menghadiri agenda bisnis, Manajemen Kantara Group juga mengadakan pertemuan khusus dengan Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, Jose Antonio Morato Tavares. Pertemuan ini menyoroti peluang penguatan hubungan bisnis bilateral, pertukaran inovasi, hingga pengembangan layanan ekspor-impor.
Duta Besar Tavares menyambut baik inisiatif Kantara. "Kami mendukung penuh pertukaran teknologi dan inovasi antara Indonesia dan Rusia. Teknologi Indonesia harus mendapat panggung di Rusia, begitu pula sebaliknya. Inilah yang akan membuat hubungan bilateral kedua negara semakin kuat," tegasnya.
Untuk mengeksekusi visi perdagangan tersebut, Kantara Group melibatkan PT ACSL Kantara Global Logistik. Perusahaan yang bergerak dalam pengangkutan barang, pergudangan, kepabeanan, hingga ekspedisi ini dipersiapkan untuk menggarap peluang layanan ekspor-impor RI-Rusia.
Pihak KBRI Moskow pun menyatakan komitmennya untuk menjembatani akses ke rantai perdagangan tersebut guna memastikan kelancaran operasional bisnis dan menghasilkan kerja sama yang saling menguntungkan antar kedua belah negara.
Kunjungan strategis Kantara ini sekaligus menjadi bentuk nyata dukungan sektor swasta terhadap visi diplomasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya bertandang ke Rusia guna memperkuat kemitraan strategis kedua negara. Langkah proaktif Business-to-Business (B2B) ini sejalan dengan tren positif ekonomi RI-Rusia, di mana nilai perdagangan bilateral pada 2025 sukses menyentuh angka 1,876 miliar dolar AS dengan realisasi investasi mencapai 262,8 juta dolar AS.